Insight utama: e-wallet itu “pay”, bukan “save”
Riset yang kami lakukan menunjukkan pola konsisten:
- balance e-wallet diperlakukan sebagai spending money, bukan savings
- “tabungan” di e-wallet sering dipersepsikan sebagai wallet yang sama + extra interest, bukan saving platform yang beneran
- saving baru terasa “real” jika ada separation yang jelas (naming atau rules)
Implikasi product: kalau nempel ke spending balance, mentalnya turun jadi “wallet with perks”
Kalau Tabungan duduk di spending balance, user cenderung menganggapnya sebagai “wallet with benefits”, bukan saving product.
Benchmark: GoPay Tabungan x OVO Nabung
Cross-platform insight:
Adoption lebih banyak dipicu UX convenience, promo, dan ecosystem integration bukan saving intent.
Kenapa branding harus “spending atau money management”, bukan overclaim saving
Karena product tidak punya saving feature yang lebih advance dari competitor (aka be), branding yang terlalu “saving-heavy” rawan mismatch ekspektasi. Direction yang saya dorong: tetap credible dan structured, tapi framing-nya lebih dekat ke spending/money management, bukan janji “saving tool”.
“Kalau saving nggak kerasa ‘kepala sendiri’, dia bakal kebawa spending.”
Branding workshop
Saya fasilitasi workshop bareng Bank Saqu untuk:
- menyepakati branding hierarchy & architecture (joint product)
- mengerucutkan kandidat logo yang siap dipresentasikan ke BOD
